Hjspilt adalah software yg digunakan untuk membagi atau menggabungkan file berpart
Software ini dapat digunakan di windows 7, Xp, dll
Dibuat oleh Freebyte
Untuk mendownload Hjsplit 2.4 klik disini
Jumat, 27 Juli 2012
Minggu, 15 Juli 2012
Dongeng Semangka Emas - Kalimantan Barat
Di kampung terpencil di daerah
Kalimantan Barat pada zaman dulu hiduplah dua orang kakak beradik. Yang
sulung bernama Muzakir dan si bungsu bernama Dermawan. Meskipun
bersaudara namun keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Muzakir
adalah seorang yang kikir dan tidak suka menolong orang lain. sifatnya
yang sombong dan suka menunjukkan harta kekayaannya menyebabkan orang
tidak menyukainya. Selain itu Muzakir tidak pernah mau bersedekah dia
takut jika hartanya akan habis kalau disedekahkan pada orang miskin.
Oleh sebab itu Muzaki di sebut si kikir.
Berbanding terbalik dengan kakaknya,
Dermawan sangat baik pada penduduk. Para tetangga yang kurang mampu
selalu di tolong oleh Dermawan. Dia sangat memperhatikan orang lain dan
sebisa mungkin membantu orang tersebut. Oleh sebab itu dermawan sangat
terkenal di kampung sebagai orang yang baik hati dan dermawan. Walaupun
banyak yang menyanjungnya Dermawan tidak menjadi sombong, justru
sebaliknya dia semakin rendah hati dan tidak mengharapkan imbalan apapun
dari apa yang dia berikan kepada orang lain.
Suatu hati Muzakir mendatangi adiknya
dan berkata, betapa bodohnya Dermawan yang mau memberikan hartanya
kepada orang miskin. Hal itu dianggap tidak berguna bagi Muzakir.
Dermawan tersenyum mendengar perkataan kakaknya. Muzakir juga berkata
bahwa dia tidak akan menolong Dermawan jika suatu hari harta Dermawan
habis karena di sedekahkan pada orang lain. Dermawan berjanji jika ia
jatuh miskin, ia tidak akan meminta pertolongan kakaknya.
Begitulah seterusnya, apa yang dikatakan
Muzakir akhirnya menjadi kenyataan. Harta Dermawan lama-kelamaan
menjadi habis dan akhirnya jatuh miskin. Walaupun begitu Dermawan
menepati janjinya bahwa dia tidak akan meminta bantuan kakaknya. Muzakir
yang mendengar Dermawan jatuh miskin menjadi girang hatinya. Sebab saat
ini dialah orang paling kaya di kampung tersebut. Dermawan tinggal di
rumah yang kecil dan tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup
seadanya.
Pada suatu hari Dermawan menemukan seekor burung kecil yang terjatuh di halaman rumahnya. Dermawan mengambil burung itu dan melihat keadaannya. Ternyata burung tersebut terluka dibagian sayapnya. Dengan penuh kasih sayang Dermawan mengobati dan memelihara burung kecil itu hingga sembuh. Setelah sembuh burung itu kemudian dilepaskan kembali ke alam bebas. Setelah beberapa bulan burung
kecil itu kembali ke rumah Dermawan dan menjatuhkan sebuah biji
semangka. Dermawan sangat senang dan berterima kasih. Lalu biji semangka
itu di tanam Dermawan. Selang beberapa bulang semangka itu sudah
berbuah. Aneh, buah semangka tersebut hanya satu saja. Namun Dermawan
tidak mengeluh, semangka yang berbuah hanya satu buah itu sangat besar
sehingga cukup dimakan untuk orang banyak. Dermawan membawa masuk buah
semangka tersebut dan membelahnya dengan hati-hati. Ajaib, ternyata di
dalam semangka itu terdapat emas dan permata
yang sangat banyak. Dermawan sangat bersyukur dan dalam sekejap saja
dia kembali menjadi kaya raya. Dermawan lalu membayar semua
hutang-hutangnya dan bersedekah kepada warga kampung yang
membutuhkannya. Harta yang di bagikan Dermawan tidak pernah habis tapi
semakin banyak.
Muzakir yang mendengar Dermawan kembali
kaya raya menjadi iri. Lalu dia menyuruh pembantunya untuk menyelidiki
apa yang terjadi. Setelah mengetahu penyebab Dermawan kembali kaya raya
maka Muzakir ingin menirunya. Dicarinya burung kecil yang patah sayapnya. Setelah mencari kesana-sini burung yang di cari tidak kunjung dijumpai. Muzakir lalu menyuruh seseorang untuk melukai seekor burung lalu dia menyuruh pembantunya untuk merawat burung tersebut hingga sembuh.
Tidak lama kemudian burung itupun sembuh, setelah di lepaskan kembali ke alam bebas burung
tersebut datang kembali ke rumah Muzakir dan menjatuhkan sebuah biji
semangka. Muzakir sangat senang dan menanam biji semangka tersebut.
Selang beberapa bulan semangka yang di tanam itu tumbuh dan berbuah satu
saja. Muzakir membawa semangka tersebut dan membelahnya menjadi dua
bagian. Namun ternyata di dalam semangka tersebut tidak ada emas dan permata
melainkan lumpur yang sangat bau dan mengenai wajah Muzakir. Celakanya,
lumpur tersebut tidak bisa hilang baunya sehingga Muzakir menjadi malu
dan menyesal atas perbuatannya.
Kamis, 14 Juni 2012
Biografi Sir Isaac Newton
Sir Isaac Newton adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi dan juga ahli kimia yang berasal dari Inggris.
Ia juga ilmuwan paling besar dan paling berpengaruh yang pernah hidup
di dunia, lahir di Woolsthrope, Inggris, tepat pada hari Natal
tahun 1642, bertepatan tahun dengan wafatnya Galileo. Seperti halnya
Nabi Muhammad, dia lahir sesudah ayahnya meninggal Beliau merupakan
pengikut aliran heliosentris dan ilmuwan yang sangat berpengaruh
sepanjang sejarah, bahkan dikatakan sebagai bapak ilmu fisika
modern.
Masa-masa Awal Isaac Newton
Newton dilahirkan di kota Woolsthorpe-by-Colsterworth, hamlet di countyLincolnshire
lahir secara prematur, dimana saat itu bayi prematur tidak diharapkan
kehadirannya di dunia. Ayahnya, Isaac, meninggal tiga bulan sebelum
kelahiran Newton, dan dua tahun kemudian ibunya, Hannah Ayscough Newton, menikah dengan lelaki lain dan meninggalkan Newton dengan neneknya. Newton merupakan kanak-kanak pintar.
Berdasarkan pernyataan E.T. Bell (1937, Simon and Schuster) dan H. Eves:
|
“
|
Newton
memulai sekolah saat tinggal bersama neneknya di desa dan kemudian
dikirimkan ke sekolah bahasa di daerah Grantham dimana dia akhirnya
menjadi anak terpandai di sekolahnya. Saat bersekolah di Grantham dia
tinggal di-kost milik apoteker lokal yang bernama William Clarke.
Sebelum meneruskan kuliah di Universitas Cambridge pada usia 19,
Newton sempat menjalin kasih dengan adik angkat William Clarke, Anne
Storer. Saat Newton memfokuskan dirinya pada pelajaran, kisah cintanya
dengan menjadi semakin tidak menentu dan akhirnya Storer menikahi
orang lain. Banyak yang menegatakan bahwa dia, Newton, selalu
mengenang kisah cintanya walaupun selanjutnya tidak pernah disebutkan Newton memiliki seorang kekasih dan bahkan pernah menikah.
|
Sejak usia 12 hingga 17 tahun, Newton
mengenyam pendidikan di sekolah The Kings School yang terletak di
Grantham (tanda tangannya masih terdapat di perpustakaan sekolah).
Keluarganya mengeluarkan Newton dari sekolah dengan alasan agar dia menjadi petani saja, bagaimanapun Newton
terlihat tidak menyukai pekerjaan barunya. Tapi pada akhirnya setelah
meyakinkan keluarga dan ibunya dengan bantuan paman dan gurunya, Newton dapat menamatkan sekolah pada usia 18 tahun dengan nilai yang memuaskan.
Di
masa bocah dia sudah menunjukkan kecakapan yang nyata di bidang
mekanika dan teramat cekatan menggunakan tangannya. Meskipun anak dengan
otak cemerlang, di sekolah tampaknya ogah-ogahan dan tidak banyak
menarik perhatian. Tatkala menginjak akil baliq, ibunya mengeluarkannya
dari sekolah dengan harapan anaknya bisa jadi petani yang baik.
Untungnya sang ibu bisa dibujuk, bahwa bakat utamanya tidak terletak di
situ.
Pada umurnya delapan belas dia masuk Universitas Cambridge. Di sinilah Newton
secara kilat menyerap apa yang kemudian terkenal dengan ilmu
pengetahuan dan matematik dan dengan cepat pula mulai melakukan
penyelidikan sendiri. Antara usia dua puluh satu dan dua puluh tujuh
tahun dia sudah meletakkan dasar-dasar teori ilmu pengetahuan yang pada
gilirannya kemudian mengubah dunia.
Pertengahan
abad ke-17 adalah periode pembenihan ilmu pengetahuan. Penemuan
teropong bintang dekat permulaan abad itu telah merombak seluruh
pendapat mengenai ilmu perbintangan. Filosof Inggris Francis Bacon dan
Filosof Perancis Rene Descartes kedua-duanya berseru kepada ilmuwan
seluruh Eropa agar tidak lagi menyandarkan diri pada kekuasaan
Aristoteles, melainkan melakukan percobaan dan penelitian atas dasar
titik tolak dan keperluan sendiri. Apa yang dikemukakan oleh Bacon dan
Descartes, sudah dipraktekkan oleh si hebat Galileo. Penggunaan teropong
bintang, penemuan baru untuk penelitian astronomi oleh Newton telah
merevolusionerkan penyelidikan bidang itu, dan yang dilakukannya di
sektor mekanika telah menghasilkan apa yang kini terkenal dengan sebutan
“Hukum gerak Newton” yang pertama.
Dengan berbagai hasil karya ilmiah yang dicapainya, Newton menulis sebuah buku Philosophiae Naturalis Principia Mathematica,
dimana pada buku tersebut dideskripsikan mengenai teori gravitasi
secara umum, berdasarkan hukum gerak yang ditemukannya, dimana benda
akan tertarik ke bawah karena gaya gravitasi. Bekerja sama dengan Gottfried Leibniz, Newton mengembangkan teori kalkulus. Newton
merupakan orang pertama yang menjelaskan tentang teori gerak dan
berperan penting dalam merumuskan gerakan melingkar dari hukum Kepler,
dimana Newton
memperluas hukum tersebut dengan beranggapan bahwa suatu orbit gerakan
melingkar tidak harus selalu berbentuk lingkaran sempurna (seperti
elipse, hiperbola dan parabola). Newton
menemukan spektrum warna ketika melakukan percobaan dengan melewati
sinar putih pada sebuah prisma, dia juga percaya bahwa sinar merupakan
kumpulan dari partikel-partikel. Newton
juga mengembangkan hukum tentang pendinginan yang di dapatkan dari
teori binomial, dan menemukan sebuah prinsip momentum dan angular
momentum.
Pendapat Kepala Akademi Ilmiah Berlin tentang Newton: "Newton
ialah seorang jenius besar yang pernah ada dan paling beruntung, yang
tak bisa kita temukan lebih dari suatu sistem dunia untuk didirikan."
[See Shapley.
Ilmuwan
besar lain, seperti William Harvey, penemu ihwal peredaran darah dan
Johannes Kepler penemu tata gerak planit-planit di seputar matahari,
mempersembahkan informasi yang sangat mendasar bagi kalangan
cendikiawan. Walau begitu, ilmu pengetahuan murni masih merupakan
kegemaran para intelektual, dan masih belum dapat dibuktikan –apabila
digunakan dalam teknologi– bahwa ilmu pengetahuan dapat mengubah pola
dasar kehidupan manusia sebagaimana diramalkan oleh Francis Bacon.
Walaupun
Copernicus dan Galileo sudah menyepak ke pinggir beberapa anggapan
ngelantur tentang pengetahuan purba dan telah menyuguhkan pengertian
yang lebih genah mengenai alam semesta, namun tak ada satu pokok pikiran
pun yang terumuskan dengan seksama yang mampu membelokkan tumpukan
pengertian yang gurem dan tak berdasar seraya menyusunnya dalam suatu
teori yang memungkinkan berkembangnya ramalan-ramalan yang lebih ilmiah.
Tak lain dari Isaac Newton-lah orangnya yang sanggup menyuguhkan
kumpulan teori yang terangkum rapi dan meletakkan batu pertama ilmu
pengetahuan modern yang kini arusnya jadi anutan orang.
Newton
sendiri agak ogah-ogahan menerbitkan dan mengumumkan
penemuan-penemuannya. Gagasan dasar sudah disusunnya jauh sebelum tahun
1669 tetapi banyak teori-teorinya baru diketahui publik bertahun-tahun
sesudahnya. Penerbitan pertama penemuannya adalah menyangkut
penjungkir-balikan anggapan lama tentang hal-ihwal cahaya. Dalam
serentetan percobaan yang seksama, Newton
menemukan fakta bahwa apa yang lazim disebut orang “cahaya putih”
sebenarnya tak lain dari campuran semua warna yang terkandung dalam
pelangi. Dan ia pun dengan sangat hati-hati melakukan analisa tentang
akibat-akibat hukum pemantulan dan pembiasan cahaya. Berpegang pada
hukum ini dia –pada tahun 1668– merancang dan sekaligus membangun
teropong refleksi pertama, model teropong yang dipergunakan oleh
sebagian terbesar penyelidik bintang-kemintang saat ini. Penemuan ini,
berbarengan dengan hasil-hasil yang diperolehnya di bidang percobaan
optik yang sudah diperagakannya, dipersembahkan olehnya kepada lembaga
peneliti kerajaan Inggris tatkala ia berumur dua puluh sembilan tahun.
Keberhasilan Newton di bidang optik saja mungkin sudah memadai untuk mendudukkan Newton
pada urutan daftar buku ini. Sementara itu masih ada penemuan-penemuan
yang kurang penting di bidang matematika murni dan di bidang mekanika.
Persembahan terbesarnya di bidang matematika adalah penemuannya tentang
“kalkulus integral” yang mungkin dipecahkannya tatkala ia berumur dua
puluh tiga atau dua puluh empat tahun. Penemuan ini merupakan hasil
karya terpenting di bidang matematika modern. Bukan semata bagaikan
benih yang daripadanya tumbuh teori matematika modern, tetapi juga
perabot tak terelakkan yang tanpa penemuannya itu kemajuan pengetahuan
modern yang datang menyusul merupakan hal yang mustahil. Biarpun Newton
tidak berbuat sesuatu apapun lagi, penemuan “kalkulus integral”-nya saja sudah
memadai untuk menuntunnya ke tangga tinggi dalam daftar urutan buku
ini.
Tetapi penemuan-penemuan Newton
yang terpenting adalah di bidang mekanika, pengetahuan sekitar
bergeraknya sesuatu benda. Galileo merupakan penemu pertama hukum yang
melukiskan gerak sesuatu obyek apabila tidak dipengaruhi oleh kekuatan
luar. Tentu saja pada dasarnya semua obyek dipengaruhi oleh kekuatan
luar dan persoalan yang paling penting dalam ihwal mekanik adalah
bagaimana obyek bergerak dalam keadaan itu. Masalah ini dipecahkan oleh Newton
dalam hukum geraknya yang kedua dan termasyhur dan dapat dianggap
sebagai hukum fisika klasik yang paling utama. Hukum kedua (secara
matcmatik dijabarkan dcngan persamaan F = m.a) menetapkan bahwa
akselerasi obyek adalah sama dengan gaya netto dibagi massa benda. Terhadap kedua hukum itu Newton
menambah hukum ketiganya yang masyhur tentang gerak (menegaskan bahwa
pada tiap aksi, misalnya kekuatan fisik, terdapat reaksi yang sama
dengan yang bertentangan) serta yang paling termasyhur penemuannya
tentang kaidah ilmiah hukum gaya
berat universal. Keempat perangkat hukum ini, jika digabungkan, akan
membentuk suatu kesatuan sistem yang berlaku buat seluruh makro sistem
mekanika, mulai dari pergoyangan pendulum hingga gerak planit-planit
dalam orbitnya mengelilingi matahari yang dapat diawasi dan
gerak-geriknya dapat diramalkan. Newton
tidak cuma menetapkan hukum-hukum mekanika, tetapi dia sendiri juga
menggunakan alat kalkulus matematik, dan menunjukkan bahwa rumus-rumus
fundamental ini dapat dipergunakan bagi pemecahan problem.
Hukum
Newton dapat dan sudah dipergunakan dalam skala luas bidang ilmiah
serta bidang perancangan pelbagai peralatan teknis. Dalam masa hidupnya,
pemraktekan yang paling dramatis adalah di bidang astronomi. Di sektor
ini pun Newton berdiri paling depan. Tahun 1678 Newton
menerbitkan buku karyanya yang masyhur Prinsip-prinsip matematika
mengenai filsafat alamiah (biasanya diringkas Principia saja). Dalam
buku itu Newton mengemukakan teorinya tentang hukum gaya
berat dan tentang hukum gerak. Dia menunjukkan bagaimana hukum-hukum
itu dapat dipergunakan untuk memperkirakan secara tepat gerakan-gerakan
planit-planit seputar sang matahari. Persoalan utama gerak-gerik
astronomi adalah bagaimana memperkirakan posisi yang tepat dan gerakan
bintang-kemintang serta planit-planit, dengan demikian terpecahkan
sepenuhnya oleh Newton hanya dengan sekali sambar. Atas karya-karyanya itu Newton sering dianggap seorang astronom terbesar dari semua yang terbesar.
Apa penilaian kita terhadap arti penting keilmiahan Newton? Apabila kita buka-buka indeks ensiklopedia ilmu pengetahuan, kita akan jumpai ihwal menyangkut Newton
beserta hukum-hukum dan penemuan-penemuannya dua atau tiga kali lebih
banyak jumlahnya dibanding ihwal ilmuwan yang manapun juga. Kata
cendikiawan besar Leibniz yang sama sekali tidak dekat dengan Newton
bahkan pernah terlibat dalam suatu pertengkaran sengit: “Dari semua hal
yang menyangkut matematika dari mulai dunia berkembang hingga adanya Newton, orang itulah yang memberikan sumbangan terbaik.” Juga pujian diberikan oleh sarjana besar Perancis, Laplace:
“Buku Principia Newton berada jauh di atas semua produk manusia genius
yang ada di dunia.” Dan Langrange sering menyatakan bahwa Newton
adalah genius terbesar yang pernah hidup. Sedangkan Ernst Mach dalam
tulisannya di tahun 1901 berkata, “Semua masalah matematika yang sudah
terpecahkan sejak masa hidupnya merupakan dasar perkembangan mekanika
berdasar atas hukum-hukum Newton.” Ini mungkin merupakan penemuan besar Newton
yang paling ruwet: dia menemukan wadah pemisahan antara fakta dan
hukum, mampu melukiskan beberapa keajaiban namun tidak banyak menolong
untuk melakukan dugaan-dugaan; dia mewariskan kepada kita rangkaian
kesatuan hukum-hukum yang mampu dipergunakan buat permasalahan fisika
dalam ruang lingkup rahasia yang teramat luas dan mengandung kemungkinan
untuk melakukan dugaan-dugaan yang tepat.
Dalam uraian yang begini ringkas, adalah mustahil membeberkan secara terperinci penemuan-penemuan Newton.
Akibatnya, banyak karya-karya yang agak kurang tenar terpaksa harus
disisihkan biarpun punya makna penting di segi penemuan dalam bidang
masalahnya sendiri. Newton
juga memberi sumbangsih besar di bidang thermodinamika (penyelidikan
tentang panas) dan di bidang akustik (ilmu tentang suara). Dan dia
pulalah yang menyuguhkan penjelasan yang jernih bagai kristal
prinsip-prinsip fisika tentang “pengawetan” jumlah gerak agar tidak
terbuang serta “pengawetan” jumlah gerak sesuatu yang bersudut. Antrian
penemuan ini kalau mau bisa diperpanjang lagi: Newtonlah orang yang
menemukan dalil binomial dalam matematika yang amat logis dan dapat
dipertanggungjawabkan. Mau tambah lagi? Dia juga, tak lain tak bukan,
orang pertama yang mengutarakan secara meyakinkan ihwal asal mula
bintang-bintang.
Nah, sekarang soalnya begini: taruhlah Newton
itu ilmuwan yang paling jempol dari semua ilmuwan yang pernah hidup di
bumi. Paling kemilau bagaikan batu zamrud di tengah tumpukan batu kali.
Taruhlah begitu. Tetapi, bisa saja ada orang yang mempertanyakan alasan
apa menempatkan Newton
di atas pentolan politikus raksasa seperti Alexander Yang Agung atau
George Wasington, serta disebut duluan ketimbang tokoh-tokoh agama besar
seperti Nabi Isa atau Budha Gautama. Kenapa mesti begitu?
Pertimbangan
saya begini. Memang betul perubahan-perubahan politik itu penting kalau
tidak teramat penting. Walau begitu, bagaimanapun juga pada umumnya
manusia sebagaian terbesar hidup nyaris tak banyak beda antara mereka di
jaman lima ratus tahun sesudah Alexander wafat dengan mereka di jaman lima
ratus sebelum Alexander muncul dari rahim ibunya. Dengan kata lain,
cara manusia hidup di tahun 1500 sesudah Masehi boleh dibilang serupa
dengan cara hidup buyut bin buyut bin buyut mereka di tahun 1500 sebelum
Masehi. Sekarang, tengoklah dari sudut perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam lima
abad terakhir, berkat penemuan-penemuan ilmiah modern, cara hidup
manusia sehari-hari sudah mengalami revolusi besar. Cara berbusana beda,
cara makan beda, cara kerja dan ragamnya beda. Bahkan, cara hidup
santai berleha-leha pun sama sekali tidak mirip dengan apa yang
diperbuat orang jaman tahun 1500 sesudah Masehi. Penemuan ilmiah bukan
saja sudah merevolusionerkan teknologi dan ekonomi, tetapi juga sudah
mengubah total segi politik, pemikiran keagamaan, seni dan falsafah.
Sangat langkalah aspek kehidupan manusia yang tetap “jongkok di tempat”
tak beringsut sejengkal pun dengan adanya revolusi ilmiah. Alasan ini
–sekali lagi alasan ini– yang jadi sebab mengapa begitu banyak ilmuwan
dan penemu gagasan baru tercantum di dalam daftar buku ini. Newton
bukan semata yang paling cerdas otak diantara barisan cerdas otak,
tetapi sekaligus dia tokoh yang paling berpengaruh di dalam perkembangan
teori ilmu. Itu sebabnya dia peroleh kehormatan untuk didudukkan dalam
urutan hampir teratas dari sekian banyak manusia yang paling berpengaruh
dalam sejarah manusia. Newton
menghembuskan nafas penghabisan tahun 1727, dikebumikan di Westminster
Abbey, ilmuwan pertama yang memperoleh penghormatan macam itu.
Daftar karya Newton
Pangeran Katak
Pada suatu waktu, hidup seorang raja
yang mempunyai beberapa anak gadis yang cantik, tetapi anak gadisnya
yang paling bungsulah
yang paling cantik. Ia memiliki wajah yang sangat cantik dan selalu
terlihat bercahaya. Ia bernama Mary. Di dekat istana raja terdapat
hutan yang luas serta lebat dan di bawah satu pohon limau yang sudah
tua ada sebuah sumur. Suatu hari yang panas, Putri Mary pergi bermain
menuju hutan dan duduk di tepi pancuran yang airnya sangat dingin.
Ketika sudah bosan sang Putri mengambil sebuah bola emas kemudian
melemparkannya tinggi-tinggi lalu ia tangkap kembali. Bermain lempar
bola adalah mainan kegemarannya.
Namun,
suatu ketika bola emas sang putri tidak bisa ditangkapnya. Bola itu
kemudian jatuh ke tanah dan menggelinding ke arah telaga, mata sang
putri terus melihat arah bola emasnya, bola terus bergulir hingga
akhirnya lenyap di telaga yang dalam,
sampai dasar telaga itu pun tak terlihat. Sang Putri pun mulai
menangis. Semakin lama tangisannya makin keras. Ketika ia masih
menangis, terdengar suara seseorang berbicara padanya,”Apa yang
membuatmu bersedih tuan putri? Tangisan tuan Putri sangat membuat saya
terharu… Sang Putri melihat ke sekeliling mencari darimana arah suara
tersebut, ia hanya melihat seekor katak besar dengan muka yang jelek di
permukaan air. “Oh… apakah engkau yang tadi berbicara katak? Aku
menangis karena bola emasku jatuh ke dalam telaga”. “Berhentilah
menangis”, kata sang katak. Aku bisa membantumu mengambil bola emasmu,
tapi apakah yang akan kau berikan padaku nanti?”, lanjut sang katak.
“Apapun
yang kau minta akan ku berikan, perhiasan dan mutiaraku, bahkan aku
akan berikan mahkota emas yang aku pakai ini”, kata sang putri. Sang
katak menjawab, “aku tidak mau perhiasan, mutiara bahkan mahkota
emasmu, tapi aku ingin kau mau menjadi teman pasanganku dan
mendampingimu makan, minum dan menemanimu tidur. Jika kau berjanji
memenuhi semua keinginanku, aku akan mengambilkan bola emasmu kembali”,
kata sang katak. “Baik, aku janji akan memenuhi semua keinginanmu jika
kau berhasil membawa bola emasku kembali.” Sang putri berpikir,
bagaimana mungkin seekor katak yang bisa berbicara dapat hidup di darat
dalam waktu yang lama. Ia hanya bisa bermain di air bersama katak
lainnya sambil bernyanyi. Setelah sang putri berjanji, sang katak
segera menyelam ke dalam telaga dan dalam waktu singkat ia kembali ke
permukaan sambil membawa bola emas di mulutnya kemudian melemparkannya
ke tanah.
Sang Putri merasa sangat
senang karena bola emasnya ia dapatkan kembali. Sang Putri menangkap
bola emasnya dan kemudian berlari pulang. “Tunggu… tunggu,” kata sang
katak. “Bawa aku bersamamu, aku tidak dapat berlari secepat dirimu”.
Tapi percuma saja sang katak berteriak memanggil sang putri, ia tetap
berlari meninggalkan sang katak.
Sang katak merasa sangat sedih dan kembal ke telaga kembali. Keesokan
harinya, ketika sang Putri sedang duduk bersama ayahnya sambil makan
siang, terdengar suara lompatan ditangga marmer. Sesampainya di tangga
paling atas, terdengar ketukan pintu dan tangisan,”Putri, putri…
bukakan pintu untukku”. Sang putri bergegas menuju pintu. Tapi ketika
ia membuka pintu, ternyata di hadapannya sudah ada sang katak. Karena
kaget ia segera menutup pintu keras-keras. Ia kembali duduk di meja
makan dan kelihatan ketakutan. Sang Raja yang melihat anaknya ketakutan
bertanya pada putrinya,”Apa yang engkau takutkan putriku? Apakah ada
raksasa yang akan membawamu pergi? “Bukan ayah, bukan seorang raksasa
tapi seekor katak yang menjijikkan”, kata sang putri. “Apa yang ia
inginkan dari?” tanya sang raja pada putrinya.
Kemudian
sang putri bercerita kembali kejadian yang menimpanya kemarin. “Aku
tidak pernah berpikir ia akan datang ke istana ini..”, kata sang Putri.
Tidak berapa lama, terdengar ketukan di pintu lagi. “Putri…, putri,
bukakan pintu untukku.
Apakah kau lupa dengan ucapan mu di telaga kemarin?” Akhirnya sang
Raja berkata pada putrinya,”apa saja yang telah engkau janjikan
haruslah ditepati. Ayo, bukakan pintu untuknya”. Dengan langkah yang
berat, sang putri bungsu membuka pintu, lalu sang katak segera masuk
dang mengikuti sang putri sampai ke meja makan. “Angkat aku dan biarkan
duduk di sebelahmu”, kata sang katak. Atas perintah Raja, pengawal
menyiapkan piring untuk katak di samping Putri Mary. Sang katak segera
menyantap makanan di piring itu dengan menjulurkan lidahnya yang
panjang. “Wah, benar-benar tidak punya aturan. Melihatnya saja membuat
perasaanku tidak enak,” kata Putri Mary.
Sang
Putri bergegas lari ke kamarnya. Kini ia merasa lega bisa melepaskan
diri dari sang katak. Namun, tiba-tiba, ketika hendak
membaringkan
diri di tempat tidur…. “Kwoook!” ternyata sang katak sudah berada di
atas tempat tidurnya. “Cukup katak! Meskipun aku sudah mengucapkan
janji, tapi ini sudah keterlaluan!” Putri Mary sangat marah, lalu ia
melemparkan katak itu ke lantai. Bruuk! Ajaib, tiba-tiba asap keluar
dari tubuh katak. Dari dalam asap muncul seorang pangeran yang gagah.
“Terima kasih Putri Mary… kau telah menyelamatkanku dari sihir seorang
penyihir yang jahat. Karena kau telah melemparku, sihirnya lenyap dan
aku kembali ke wujud semula.” Kata sang pangeran. “Maafkan aku karena
telah mengingkari janji,” kata sang putri dengan penuh sesal. “Aku juga
minta maaf. Aku sengaja membuatmu marah agar kau melemparkanku,” sahut
sang Pangeran. Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya sang Pangeran dan
Putri Mary mengikat janji setia dengan menikah dan merekapun hidup
bahagia.
Senin, 11 Juni 2012
The Elf of The Rose
In
the midst of a garden grew a rose-tree, in full blossom, and in the
prettiest of all the roses lived an elf. He was such a little wee thing,
that no human eye could see him. Behind each leaf of the rose he had a
sleeping chamber. He was as well formed and as beautiful as a little
child could be, and had wings that reached from his shoulders to his
feet. Oh, what sweet fragrance there was in his chambers! and how clean
and beautiful were the walls! for they were the blushing leaves of the
rose.
During the whole day he enjoyed
himself in the warm sunshine, flew from flower to flower, and danced on
the wings of the flying butterflies. Then he took it into his head to
measure how many steps he would have to go through the roads and
cross-roads that are on the leaf of a linden-tree. What we call the
veins on a leaf, he took for roads; ay, and very long roads they were
for him; for before he had half finished his task, the sun went down: he
had commenced his work too late. It became very cold, the dew fell, and
the wind blew; so he thought the best thing he could do would be to
return home. He hurried himself as much as he could; but he found the
roses all closed up, and he could not get in; not a single rose stood
open. The poor little elf was very much frightened. He had never before
been out at night, but had always slumbered secretly behind the warm
rose-leaves.
Oh,
this would certainly be his death. At the other end of the garden, he
knew there was an arbor, overgrown with beautiful honey-suckles. The
blossoms looked like large painted horns; and he thought to himself, he
would go and sleep in one of these till the morning. He flew thither;
but “hush!” two people were in the arbor,—a handsome young man and a
beautiful lady. They sat side by side, and wished that they might never
be obliged to part. They loved each other much more than the best child
can love its father and mother.
“But we must part,” said the
young man; “your brother does not like our engagement, and therefore he
sends me so far away on business, over mountains and seas. Farewell, my
sweet bride; for so you are to me.” And then they kissed each other, and
the girl wept, and gave him a rose; but before she did so, she pressed a
kiss upon it so fervently that the flower opened. Then the little elf
flew in, and leaned his head on the delicate, fragrant walls. Here he
could plainly hear them say, “Farewell, farewell;” and he felt that the
rose had been placed on the young man’s breast. Oh, how his heart did
beat! The little elf could not go to sleep, it thumped so loudly. The
young man took it out as he walked through the dark wood alone, and
kissed the flower so often and so violently, that the little elf was
almost crushed. He could feel through the leaf how hot the lips of the
young man were, and the rose had opened, as if from the heat of the
noonday sun.
There came another man, who
looked gloomy and wicked. He was the wicked brother of the beautiful
maiden. He drew out a sharp knife, and while the other was kissing the
rose, the wicked man stabbed him to death; then he cut off his head, and
buried it with the body in the soft earth under the linden-tree.
“Now he is gone, and will soon
be forgotten,” thought the wicked brother; “he will never come back
again. He was going on a long journey over mountains and seas; it is
easy for a man to lose his life in such a journey. My sister will
suppose he is dead; for he cannot come back, and she will not dare to
question me about him.”
Then he scattered the dry leaves
over the light earth with his foot, and went home through the darkness;
but he went not alone, as he thought,—the little elf accompanied him.
He sat in a dry rolled-up linden-leaf, which had fallen from the tree on
to the wicked man’s head, as he was digging the grave. The hat was on
the head now, which made it very dark, and the little elf shuddered with
fright and indignation at the wicked deed.
It was the dawn of morning
before the wicked man reached home; he took off his hat, and went into
his sister’s room. There lay the beautiful, blooming girl, dreaming of
him whom she loved so, and who was now, she supposed, travelling far
away over mountain and sea. Her wicked brother stopped over her, and
laughed hideously, as fiends only can laugh. The dry leaf fell out of
his hair upon the counterpane; but he did not notice it, and went to get
a little sleep during the early morning hours. But the elf slipped out
of the withered leaf, placed himself by the ear of the sleeping girl,
and told her, as in a dream, of the horrid murder; described the place
where her brother had slain her lover, and buried his body; and told her
of the linden-tree, in full blossom, that stood close by.
“That you may not think this is
only a dream that I have told you,” he said, “you will find on your bed a
withered leaf.” Then she awoke, and found it there. Oh, what bitter
tears she shed! and she could not open her heart to any one for relief.
The window stood open the whole day, and the little elf could easily
have reached the roses, or any of the flowers; but he could not find it
in his heart to leave one so afflicted. In the window stood a bush
bearing monthly roses. He seated himself in one of the flowers, and
gazed on the poor girl. Her brother often came into the room, and would
be quite cheerful, in spite of his base conduct; so she dare not say a
word to him of her heart’s grief.
As soon as night came on, she
slipped out of the house, and went into the wood, to the spot where the
linden-tree stood; and after removing the leaves from the earth, she
turned it up, and there found him who had been murdered. Oh, how she
wept and prayed that she also might die! Gladly would she have taken the
body home with her; but that was impossible; so she took up the poor
head with the closed eyes, kissed the cold lips, and shook the mould out
of the beautiful hair.
“I will keep this,” said she;
and as soon as she had covered the body again with the earth and leaves,
she took the head and a little sprig of jasmine that bloomed in the
wood, near the spot where he was buried, and carried them home with her.
As soon as she was in her room, she took the largest flower-pot she
could find, and in this she placed the head of the dead man, covered it
up with earth, and planted the twig of jasmine in it.
“Farewell, farewell,” whispered
the little elf. He could not any longer endure to witness all this agony
of grief, he therefore flew away to his own rose in the garden. But the
rose was faded; only a few dry leaves still clung to the green hedge
behind it. “Alas! how soon all that is good and beautiful passes away,”
sighed the elf.
After a while he found another
rose, which became his home, for among its delicate fragrant leaves he
could dwell in safety. Every morning he flew to the window of the poor
girl, and always found her weeping by the flower pot. The bitter tears
fell upon the jasmine twig, and each day, as she became paler and paler,
the sprig appeared to grow greener and fresher. One shoot after another
sprouted forth, and little white buds blossomed, which the poor girl
fondly kissed. But her wicked brother scolded her, and asked her if she
was going mad. He could not imagine why she was weeping over that
flower-pot, and it annoyed him. He did not know whose closed eyes were
there, nor what red lips were fading beneath the earth. And one day she
sat and leaned her head against the flower-pot, and the little elf of
the rose found her asleep. Then he seated himself by her ear, talked to
her of that evening in the arbor, of the sweet perfume of the rose, and
the loves of the elves. Sweetly she dreamed, and while she dreamt, her
life passed away calmly and gently, and her spirit was with him whom she
loved, in heaven. And the jasmine opened its large white bells, and
spread forth its sweet fragrance; it had no other way of showing its
grief for the dead. But the wicked brother considered the beautiful
blooming plant as his own property, left to him by his sister, and he
placed it in his sleeping room, close by his bed, for it was very lovely
in appearance, and the fragrance sweet and delightful.
The little elf of the rose
followed it, and flew from flower to flower, telling each little spirit
that dwelt in them the story of the murdered young man, whose head now
formed part of the earth beneath them, and of the wicked brother and the
poor sister. “We know it,” said each little spirit in the flowers, “we
know it, for have we not sprung from the eyes and lips of the murdered
one. We know it, we know it,” and the flowers nodded with their heads in
a peculiar manner. The elf of the rose could not understand how they
could rest so quietly in the matter, so he flew to the bees, who were
gathering honey, and told them of the wicked brother. And the bees told
it to their queen, who commanded that the next morning they should go
and kill the murderer. But during the night, the first after the
sister’s death, while the brother was sleeping in his bed, close to
where he had placed the fragrant jasmine, every flower cup opened, and
invisibly the little spirits stole out, armed with poisonous spears.
They placed themselves by the ear of the sleeper, told him dreadful
dreams and then flew across his lips, and pricked his tongue with their
poisoned spears. “Now have we revenged the dead,” said they, and flew
back into the white bells of the jasmine flowers. When the morning came,
and as soon as the window was opened, the rose elf, with the queen bee,
and the whole swarm of bees, rushed in to kill him. But he was already
dead. People were standing round the bed, and saying that the scent of
the jasmine had killed him. Then the elf of the rose understood the
revenge of the flowers, and explained it to the queen bee, and she, with
the whole swarm, buzzed about the flower-pot. The bees could not be
driven away. Then a man took it up to remove it, and one of the bees
stung him in the hand, so that he let the flower-pot fall, and it was
broken to pieces. Then every one saw the whitened skull, and they knew
the dead man in the bed was a murderer. And the queen bee hummed in the
air, and sang of the revenge of the flowers, and of the elf of the rose
and said that behind the smallest leaf dwells One, who can discover evil
deeds, and punish them also.
Minggu, 10 Juni 2012
Not keyboard Lagu Rasa ini - Vierra
Lyrics :
Ku tak percaya kau ada di sini
Menemaniku di saat dia pergi
Sungguh bahagia kau ada di sini
Menghapus semua sakit yang kurasa
*
Mungkinkah kau merasakan
Semua yang ku pasrahkan
Kenanglah kasih..
Reff :
Ku suka dirinya, mungkin aku sayang
Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
Kau pernah menjadi , menjadi miliknya
Namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini
Na nana nanana nana nanana
Ku suka dirinya, mungkin aku sayang
Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
Kau pernah menjadi , menjadi miliknya
Namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini
Menemaniku di saat dia pergi
Sungguh bahagia kau ada di sini
Menghapus semua sakit yang kurasa
*
Mungkinkah kau merasakan
Semua yang ku pasrahkan
Kenanglah kasih..
Reff :
Ku suka dirinya, mungkin aku sayang
Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
Kau pernah menjadi , menjadi miliknya
Namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini
Na nana nanana nana nanana
Ku suka dirinya, mungkin aku sayang
Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
Kau pernah menjadi , menjadi miliknya
Namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini
Ku suka dirinya, mungkin aku sayang
Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
Kau pernah menjadi , menjadi miliknya
Namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini
Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
Kau pernah menjadi , menjadi miliknya
Namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini
Not by : www.Hadisutrisno.com
Langganan:
Postingan (Atom)
